HARI POPULASI SEDUNIA: SALAH URUS DI DARAT, BERBUNTUT NEGATIF DI LAUT (PART #1)

Tahukah kamu bahwa setiap tanggal 11 Juli, dunia merayakan Hari Populasi Sedunia? Menurut laman Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Hari Populasi Sedunia diadakan dalam rangka memperingati jumlah populasi dunia telah mencapai 5 miliar pada 11 Juli 1987. Namun pada Resolusi 45/216 Desember 1990, Majelis Umum PBB memutuskan untuk terus memperingati Hari Populasi Dunia. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran publik tentang masalah yang dapat timbul akibat padatnya populasi.

Populasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya “seluruh jumlah orang atau penduduk di suatu daerah” atau dapat dikatakan juga sebagai penduduk. Diperkirakan setiap 100 tahun, akan ada ledakan kependudukan sebesar 5x lipat. Hal ini terjadi di Indonesia, yang pada tahun 1900-an hanya memiliki 40 juta penduduk, lalu menjadi lebih dari 200 juta penduduk di era 2000-an.  Ini artinya, jika perkiraan tersebut terbukti, pada tahun 2100 akan ada sebanyak 1 miliar penduduk di Indonesia! Jumlah yang sangat besar tentunya.

Menurut Hasil Sensus Penduduk (SP2020) yang dirilis pada September 2020 menunjukkan jumlah penduduk sebesar 270,20 juta orang. Jumlah tersebut naik sebesar 32,56 juta orang dari hasil SP2010. Dengan luas 1,9 juta km², Indonesia memiliki kepadatan penduduk 141 orang per km². Berarti jika menggunakan rumus yang sama, di tahun 2100 akan ada lebih kurang 500 orang per km².

Tentunya fenomena ini akan berdampak untuk banyak hal, termasuk bagi lingkungan. Bertambahnya penduduk akan berujung pada semakin banyaknya kebutuhan baik primer, sekunder, maupun tertier. Jika kemudian salah urus atau mismanajemen hidup penduduk di darat, bukan tidak mungkin akan berbuntut negatif di laut.

Penurunan Muka Air Tanah dan Penurunan Muka Tanah: Apakah Penyebabnya

Menurut Laboratorium Geodesi Institut Teknologi Bandung, diproyeksikan penurunan muka air tanah mencapai 1-20 centimeter per tahun. Masih terkait dengan paragraf sebelumnya, hal ini disebabkan oleh tingginya eksploitasi air tanah, terutama di urban area yang memiliki tingkat pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi.

Penurunan muka air tanah inilah yang menjadi faktor utama dari land subsidence atau penurunan muka tanah yang menyebabkan banyak kerusakan lingkungan. Menurut Heri Andreas, Pakar Geodesi di Institut Teknologi Bandung, penurunan tanah ini tidak kalah genting dan parah daripada kenaikan air laut. Permukaan tanah menurun 15 cm per tahun di Semarang, Surabaya, dan Jakarta, bahkan di Pekalongan hingga 18 cm per tahun.

Namun, pengambilan air tanah bukan satu-satunya penyebab penurunan muka tanah. Ada banyak penyebab fenomena ini; mulai dari bukaan tanah akibat tambang, konsolidasi tanah atau kebijakan penataan kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah dan ruang sesuai rencana tata ruang, serta usaha penyediaan tanah untuk kepentingan umum, dan berat beban bangunan di atas permukaan tanah yang berlebihan. 

Akibat lainnya adalah kerusakan lingkungan seperti saat terjadi pasang, penurunan muka tanah yang terus menerus akan menyebabkan air laut naik ke daratan. Fenomena ini dikenal sebagai banjir rob.

Polutan hingga Banjir Rob yang “Bawa Oleh-Oleh”

Adanya fenomena penurunan muka tanah karena eksploitasi air dan menurunnya kualitas lingkungan akibat aktivitas manusia, terlihat seperti hanya berimbas ke daratan dengan adanya banjir rob. Padahal di sisi lain, banjir rob juga mengganggu ekosistem laut. 

Banjir rob di pesisir Semarang merendam sejumlah kawasan yang berdekatan dengan pantai. Selain kerugian karena kerusakan, banjir rob yang sudah berkali-kali terjadi ini memutus akses transportasi dan pengiriman. (Foto: Kompas)

Air pasang yang kembali surut ke laut akan membawa “oleh-oleh” yang tidak diinginkan. Saat surut kembali, banjir rob sejumlah polutan dari darat yang beresiko mencemari air laut, merusak ekosistem pesisir, dan mengganggu kehidupan laut seperti ikan, terumbu karang, dan mangrove

Hal ini semakin membuktikan bahwa aktivitas manusia, baik di daratan maupun di ruang laut, tentunya akan berpengaruh pada kesehatan laut. 80% polusi yang terjadi di laut berasal dari kegiatan di daratan (oceanconference.un.org). Data tersebut diperkuat oleh temuan Population Reference Bureau (PRB) Amerika Serikat. PRB merilis bahwa perubahan ukuran, komposisi, dan distribusi populasi manusia mempengaruhi wilayah pesisir dengan perubahan penggunaan lahan dan jumlah lahan yang dihuni. 

Aktivitas penangkapan ikan atau pemanenan hasil budidaya dari ruang laut, perusakan mangrove/ hutan bakau, serta polusi dan sedimentasi dari aktivitas manusia tidak dapat dipungkiri akan berpengaruh lingkungan pesisir. Ledakan penduduk juga dapat meningkatkan jumlah aktivitas perjalanan atau tourism di daerah pesisir dan laut. Sehingga aktivitas di sub-urban area atau daerah pesisir yang bukan masuk ke kategori urban area, menjadi meningkat. 

Tingkat polusi laut pun alhasil akan semakin meningkat. Dengan meningkatnya jumlah penduduk maka akan meningkat juga jumlah sampah dan polutan atau limbah yang akan berakhir di laut seperti plastik, limbah rumah tangga, hingga limbah industri seperti limbah pabrik dan pertambangan. Sederet daftar polutan ini pastinya akan berdampak pada kesehatan laut; mulai dari sebaran limbah mikroplastik, yang saat ini mencapai angka 51 triliun partikel, akan dikonsumsi oleh hewan-hewan laut dan mengotori ekosistemnya hingga ke turunnya kualitas kesehatan air laut karena limbah industri seperti limbah tambang nikel dan emas yang justru mencemari air dan endapan hingga akhirnya  membunuh berbagai lapisan biodiversitas laut hingga pesisir. 

Hasil riset bertajuk “Pilot Analysis of Global Ecosystems” (Burke et al,.) menunjukkan bahwa bahan kimia dan logam berat yang ditemukan dalam limpasan pestisida dan limbah industri juga merusak kesehatan laut. Hal ini ditunjukkan dengan adanya temuan bahwa polutan organik persisten (POPs), yang dapat diangkut di atmosfer sudah banyak ditemukan hampir di seluruh permukaan lautan. Ditambah, beban nitrogen yang bermuara di laut juga cukup berat. Menurut data yang dibagikan pada The United Nation Ocean Conference di New York (UN, 2017), beban nitrogen ke lautan kira-kira tiga kali lipat dari masa pra-industri karena pupuk, pupuk kandang dan air limbah. Diperkirakan jumlah kerugian ekonomi global akibat polusi nitrogen mencapai $200–800 miliar per tahun tahun.

Dapat disimpulkan bahwa amburadulnya manajemen hidup ramah lingkungan yang dilakukan di darat, ditambah dengan meningkatkan jumlah penduduk, pasti akan berdampak di laut. Itu adalah fakta yang tidak dapat dipungkiri karena manusia hidup dengan alam; apapun yang kita tabur akan kita tuai. Lalu solusi apa yang dapat dilakukan? Pada artikel berikutnya dengan tajuk yang sama, KORAL akan membahas apa saja hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah atau mengurangi laju kerusakan lingkungan ini. 

***