SISI LAIN SHRIMP ESTATE, ANCAM EKOSISTEM PESISIR

Foto: Aktual.com

Rencana ekspansi Shrimp Estate (Tambak Udang) modern di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, memang telah menjadi fokus perhatian yang tajam dari kalangan pegiat lingkungan. Namun, keberlanjutan ekspansi tambak udang yang besar-besaran menjadi perhatian utama bagi para aktivis lingkungan. Mengapa demikian? mengingat adanya sisi lain yang perlu kita perhatikan bersama, yaitu munculnya potensi masalah yang serupa dengan bencana yang timbul akibat food estate

Penurunan kualitas habitat, kerusakan ekosistem, dan ancaman terhadap keberlanjutan lingkungan merupakan dampak yang perlu menjadi sorotan utama yang harus segera diatasi dalam konteks ekspansi tambak udang modern di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Sobat KORAL, fenomena ini memberikan tantangan bagi keberlanjutan lingkungan dan mata pencaharian tradisional, khususnya bagi para nelayan yang terdampak. 

Masarul selaku nelayan di Nagari Ulakan mengeluhkan dampak yang terjadi akibat limbah kimia tambak udang yang dibuang ke bantaran sungai, seperti hilangnya sebagian jenis ikan sebagai sumber pencaharian sehari-hari mereka. Perubahan dalam ekosistem pesisir mengharuskan mereka untuk mencari ikan lebih jauh dari bibir pantai, yang pada gilirannya meningkatkan risiko serta memperburuk akses terhadap sumber daya laut yang berkelanjutan.

“Tangkapan sudah berkurang. Kurangnya tidak sedikit, biasanya bisa 50 kilogram satu hari, kalau sekarang, 10 kilogram pun tak sampai” ucap Masrul, nelayan di Nagari Ulakan

Tidak hanya Masarul, beberapa nelayan lokal dan pemangku kepentingan utama juga mengeluhkan dampak negatif dari proyek tambak udang modern ini. Tantangan kesulitan yang dirasakan oleh para nelayan Nagari Ulakan menggambarkan betapa pentingnya pertimbangan menyeluruh terhadap dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan dari ekspansi tambak udang. Pemerintah seharusnya tanggap terhadap pengaruh langsung mata pencaharian tradisional dan keberlanjutan ekosistem pesisir. Sebagai masyarakat pesisir, dampak terhadap lingkungan adalah suatu keharusan dalam pengambilan keputusan terkait pembangunan tambak udang modern.

Foto: Dok. Pemprov Kalteng

Keluhan ini berkesinambungan dengan dampak nyata yang juga disampaikan Masarul bahwa, situasi shrimp estate yang sudah berjalan selama 5 tahun memberikan gambaran kompleksitas permasalahan tambak udang modern di Nagari Ulakan. Sobat KORAL, perlu kita ketahui bersama, realita yang ada pada proyek shrimp estate dimana  hanya 1 dari tiga unit yang ada yang masih beroperasi, kolam-kolam yang terbengkalai serta keramba udang yang kosong. Terlihat jelas bahwa ekspansi tambak udang modern ini tidak memberikan hasil yang diharapkan.

Di tengah kompleksitas tambak yang semakin sepi dan tidak menghasilkan keuntungan bagi kedua belah pihak. Kondisi pantai juga semakin tercemar akibat pembuangan limbah tambak udang, yang dialirkan secara langsung ke bantaran sungai yang berjarak sekitar 500 meter dari kompleks kolam buatan tersebut. Hal ini menimbulkan pertanyaan yang serius tentang keberlanjutan jangka panjang dari proyek tambak udang serta dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan dan masyarakat lokal secara keseluruhan.

Pemerintah sebagai penjembatan harus siap dikritik mengingat dampak negatif sudah dirasakan langsung oleh nelayan dan masyarakat sekitar. Perlunya perhatian serius dan kolaborasi dari berbagai pihak dan pemangku kepentingan untuk mengevaluasi kembali proyek tambang udang. Evaluasi mendalam terhadap praktik-praktik industri dan pengawasan tambak udang perlu dilakukan untuk mengidentifikasi sumber-sumber pencemaran dan dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan pesisir. Pasca evaluasi, perlu untuk memperbaiki pengelolaan proyek tambak udang modern sehingga dapat menjadi proyek yang berkelanjutan terhadap kelestarian lingkungan.

Selain itu, langkah-langkah peningkatan kesadaran dan pelatihan bagi para petani tambak udang mengenai praktik-praktik budidaya yang berkelanjutan juga harus diterapkan supaya tidak ada konflik akibat perbedaan pendapat dengan nelayan sekitar. Salah satu contoh praktik budidaya berkelanjutan yang dapat diterapkan adalah penggunaan sistem pengolahan limbah yang efektif, penanaman mangrove sebagai filter alami, dan promosi penggunaan input yang ramah lingkungan. Sobat KORAL, perlunya mendorong adanya kolaborasi antara masyarakat lokal, LSM, akademisi, dan sektor swasta dalam pembuatan kebijakan dan pelaksanaan praktik-praktik budidaya udang yang berkelanjutan sehingga dapat melindungi ekosistem pesisir dan lautserta memastikan kesejahteraan jangka panjang bagi masyarakat lokal.

***